Minggu, 07 Oktober 2012

[un}affair, review Dion Yulianto di Baca Biar Beken!


Judul              : (Un)affair
Pengarang      : Yudhi Herwibowo
Editor             : Anton WP
Cetakan          : Pertama, 2012, 172 halaman
Penerbit         : BukuKatta   

Apakah itu sebuah affair ketika dalam cerita indah itu kedua insan sama-sama mengetahui posisinya masing-masing? Layakkah cinta yang begitu lembut antar dua insan yang berbeda—yang tidak menuntut apa-apa selain sebuah sofa dan rumah kontrakan nan teduh sebagai tempat berteduh dan meluapkan cerita—boleh didakwa sebagai perselingkuhan? Jikalau memang itu harus dianggap demikian, maka alangkah benar jika
cerita dari kota Sendu itu diberi judul “perselingkuhan yang tidak adil” unfair affair --> (Un)affair

Unaffair adalah kisah tentang Bajja dan Arra, dan Wara, dan Vae, dan akhirnya, Canta. Kelima tokoh dari Kota Sendu yang banyak turun hujan inilah yang mewarnai satu lagi kisah tentang cinta tak kesampaian yang berawal dari sebuah sofa. Adalah Bajja, seorang karyawan penyuka hujan yang tiba-tiba kedatangan sosok wanita asing bernama Arra. Ketika itu, Arra  hendak mencetak buku untuk kekasihnya di kantor Bajja. Keunikan dan kemisteriusannya membuat hati Bajja yang dulunya sekeras baja semenjak perginya Canta menjadi luluh, perlahan demi perlahan. Sebuah sofa usang di rumah kontrakan Bajja menjadi saksi tumbuhnya jalinan bukan-cinta-tapi-lebih-dari-sekadar-sahabat antara keduanya. Di mana hubungan unik antara keduanya itu digambarkan dengan indahnya melalui syair-syair narasi dalam novel kecil ini.

            kita bagai kupu-kupu …
            aku kupu-kupu dengan sepasang sayap yang rapuh
            berharap engkau terus mengiringiku terbang
            menjaga sewaktu-waktu aku jatuh (hlm 85)

MySpace Lalu, keputusan itu pun datanglah. Si wanita pecinta sofa itu akhirnya pergi, sebagaimana Canta pergi meninggalkan Bajja. Dan kegalauan pun mulai melanda, yang untungnya tak lama. Sebuah kembang dari masa lalu Bajja kembali mekar menghampiri. Adalah Canta, yang memutuskan untuk  tinggal di kota Sendu, demi menikmati ketenangan dan hujannya--yang senantiasa turun. Dan, Bajja pun mendapatkan semangat dan pola hidupnya kembali, hanya untuk kembali digoyahkan oleh kedatangan kembali Arra ke Kota Sendu. Demikianlah cerita itu terus bergulir. Lalu, apakah Bajja akan kembali kepada Arra, ataukah tetap mempertahankan Canta? Biarkan Unaffair yang akan menjawabnya.

Membaca Unaffair seperti mengingatkan saya dengan pembacaan cerpen. Entahlah, tapi bagi saya aroma sebuah cerpen terasa begitu kuat dari novel yang nyatanya ada beberapa bab ini. Mungkin, saya terlalu membandingkannya dengan karya-karya Mas Yudhi yang terdahulu, terutama yang kumpulan cerpen. Sungguh, rasa sastra itu begitu kental menguar dari lembar-lembar Unaffair, menjadikannya semacam affair yang indah, yang tidak tabu, yang sangat nyaman.

Unaffair menggunakan bahasa baku yang cenderung formal. Tidak banyak kata gaul apalagi alay yang bersliweran dalam novel kecil ini, bahkan pada candaan si Wara yang agak gokil itu. Namun, keteraturan dan kebakuan itu bukannya membuat kaku tapi justru memperindah novel ini, seolah-olah “mengklasikkannya”.  Pembaca akan tetap mampu menikmati ceritanya terlepas ari penggunaan kata-kata lengkap seperti “engkau” dan “mengudak-udaknya”.

Hal lain adalah banyaknya bertebaran kalimat-kalimat reflektif yang membuktikan bahwa si penulis memang seorang pengamat kehidupan yang piawai. Di sela-sela romansa dunia Bajja, terselip pandangan penulis tentang ironisnya promo penjual nisan (“beli satu bonus satu”), atau tentang universalitas musik,

musik mungkin universal, tapi kisah di balik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejaidan seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang tidak perlu terlalu sedih  akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.” (halaman 107)

atau tentang pengaruh antara seseorang terhadap lingkungannya

Aku bisa memaklumi. Kadang sesuatuyang ada di sekitar kita, akan kita bentuk seperti diri kita” (halaman 144) *membacanya sambil melirik timbunan di pojokan  #eh

Ciri lain dari Mas Yudhi yang banyak bertebaran di buku ini adalah penggunaan kalimat-kalimat yang pendek dan seolah terpotong, seperti melambangkan jeda atau ada sesuatu efek yang hendak ditekankan. Dan, Mas Yudhi mampu menerapkan kata-kata berefek ini dengan begitu bagus sehingga bahkan seorang editor seperti saya (hasyah) abaii—yang sebenarnya sudah lazim dalam fiksi.

Mari kita akhiri pembacaan resensi ini dengan satu kutipan galau tapi indah dari salah satu halaman novel ini.

aku bagai mawar merah yang luka
namun tetap merah menyala
karena warna itu sudah kupilih
untukmu, seberapa pun aku luka (hlm 38)


http://dionyulianto.blogspot.com/2012/09/unaffair.html

[un]affair, review Alvina Vanila


Judul Buku :[un]affair
Penulis : Yudhi Herwibowo
Editor : Anton WP
Penerbit : Bukukatta
Tebal : 172 halaman
ISBN : 978-979-1032-78-0

Pernahkah kamu bertemu seseorang di suatu tempat umum, secara tak sengaja entah kenapa bayang wajahnya ada terus di pikiranmu. Bukan mengganggu, sampai suatu hari lagi kalian berjumpa di tempat yang lain, lalu kamu semakin penasaran dengan orang itu, mengapa kalian selalu bertemu?

Bajja pernah mengalami perasaan seperti itu terhadap seorang wanita bernama Arra. Pertemuan pertama mereka sebenarnya hanya sambil lalu di sebuah pemberhentian rel kereta, lalu mereka bertemu lagi di kantor Bajja ketika Arra ingin mencetak sebuah buku tulisannya sendiri. Buku yang sangat spesial, sepertinya, sampai Bajja terkadang merasa risih ketika tak sengaja membaca isi di dalamnya. Memang Arra sendiri sudah berpesan agar buku itu jangan dibaca, tapi tentu saja rasa penasaran ditambah keperluan me-layout membuat Bajja sesekali membaca isinya.

Walau menyilaukan
Pada satu matahari aku akan menuju

Ya, sepertinya buku itu memang buku spesial yang dibuat Arra khusus untuk orang terkasihnya. Tetapi ternyata selama proses buku itu di-layout dan dicetak, Arra seperti mengalami masalah dalam hubungannya dengan si kekasih tersebut.

Seringkali Arra datang ke rumah kontrakan Bajja dan tidur nyaman di sofanya. Meski kedatangan Arra tiba-tiba, dengan raut muka duka, dan masih ada sisa air mata, tapi Bajja memilih diam dan membiarkan Arra menikmati waktunya sendiri. Dan itu terjadi berulangkali, saat malam sepi, gerimis menepi.

Perlahan Bajja sadar bahwa ia menyukai Arra. Yah, meski rasa sukanya lebih dari sekadar sahabat biasa, tapi Bajja begitu menghormati Arra. Ia juga tak berani menyatakan perasaannya, secara ya, Arra kan udah suka sama seseorang.

Suatu hari Arra menghilang dari kehidupan Bajja, sebesar apapun rasa rindu di hati, tapi Bajja tak pernah bertemu lagi dengannya. Yang ada malah kehadiran Canta, mantan kekasih Bajja yang mencoba kembali lagi ke kehidupan Bajja.

Adakah Bajja akan kembali ke Canta? Atau ia malah setia menunggu Arra?

Sebuah jalinan cerita yang manis dengan sentuhan kesenduan di setiap halamannya. Pasti asyik dibaca waktu gerimis, waktu senja, atau sekadar menunggu waktu. Jalan ceritanya ringan, meski bahasanya khas Mas Yudhi (puitis-melankolis) membuat segala hal yang sebenarnya biasa menjadi bacaan yang istimewa.

Tokoh Bajja yang sabar, kalem, pemalu disandingkan dengan Arra yang misterius sehingga membuat penasaran pembaca bagaimana akhir kisah mereka.

Satu kutipan yang saya suka,

Kupikir senja menjadi indah bila kita memiliki jeda untuk tak melihatnya.


http://www.facebook.com/notes/alvina-vanila/unaffair/10151260888549458

Video trailer [un]affair

Selasa, 02 Oktober 2012

Kesulitan mendapatkan [un]affair? Bisa memesan langsung di sini!



Buat kawan2 yang kesulitan mendapatkan buku [un]affair, atau terlalu sibuk ke toko buku, mungkin bisa memesannya langsung di blog ini. Selain langsung dapet tanda tangan, ada discountnya 15% (harga normal rp. 33.000 jadi hanya rp. 28.000). Tapi ini belon termasuk ongkir ya. Sms dulu untuk konfirm ongkir.


Setelah beres, uang bisa ditransfer ke rekening:
BNI : 0100679407
Mandiri : 138-00-0774251-8
CIMB Niaga : 975-01-00313-18-3

Setelah transfer, koonfirmasi alamat ke: 0857 28555 217

Thanks.


Rabu, 26 September 2012

[un]affair, review Kumpulan Sinopsis Dari Okeyzz

Judul: [un]affair
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penyunting: Anton WP
Penerbit: Penerbit Katta
Tahun: 2012
Hlm: 172
ISBN: 9789791032780
Harga: IDR 33000
Rated: 3.5/5


Bila benar orang bilang yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu nyata, pasti Bajja sedang mengalaminya sekarang. Ia jatuh cinta pada gadis yang berpapasan dengannya di palang pemberhentian kereta. Oh, Wait! Sebelum salah paham, buku ini nggak menyuguhkan romance mengharu-biru lho ya. Hanya sendu. 
Hanya melihat sekilas saja, tidak berkenalan, tidak pula bertanya-tanya. Begitu saja sudah membuat Bajja tidak berhenti memikirkannya. Beruntung, beberapa hari kemudian gadis itu datang meminta Bajja mengerjakan cover design untuk bukunya. Dari situ Bajja tahu namanya Arra.
Kemudian tidak di sengaja keduanya berjumpa kembali dan Arra jadi sering menunggu kepulangan Bajja di depan rumah kontrakannya. Arra datang tanpa pemberitahuan dan tidak bisa di prediksi. Keduanya punya hubungan pertemanan yang aneh. Itu pun kalau bisa di sebut teman. Mungkin tepatnya teman dalam tanda kutip karena Bajja punya perasaan khusus pada Arra. 
Mereka tidak banyak mengobrol. Biasanya Arra datang saat ada masalah kemudian duduk di sofa buluk milik Bajja dan tertidur disana lalu pulang sebelum Bajja bangun. Bajja sungkan bertanya dan Arra pun tidak bercerita. Aneh kan? Tapi entah kenapa saat baca itu rasanya nyaman dan normal-normal aja.
[un]affair ini ditulis dengan gaya bahasa yang indah, cenderung nyastra menurut saya tapi tetep ringan dibaca. Mungkin sedikit oldies karena ada penggunaan kata 'engkau' tapi menurut saya konsisten dan cocok-cocok aja dengan keseluruhan suasana dan gaya bicara karakternya.

Penulis pintar sekali membangun suasana sendu. Ungkapan-ungkapan sendu Bajja mengenai kotanya, betapa ia suka hujan, betapa rindunya ia pada Arra. Setiap kalimatnya sanggup menangkap suasana para karakter. Bajja yang cenderung melankolis dan Arra yang batinnya terluka, sweet
Belum lagi penggambaran latar tempatnya. Kota Sendu. Yudhi Herwibowo mendiskripsikan kota ini dengan apik dan menyeluruh. Pedestrian yang sepi, jalan-jalan di pertokoan, jembatan tua, toko buku tua, suasana kota yang sepi, banyaknya pejalan kaki dan kendaraan lewat hanya sesekali, dst. 
Saya suka deskripsi toko buku tua yang ada dalam [un]affair ini. Begitu masuk tercium bau apak familiar buku-buku tua yang kertasnya di makan usia. Belum lagi rak-raknya tinggi hingga ke langit-langit kayak di Harry Potter. Ada salah satu statement yang saya rasa akan di amini oleh seluruh pecinta buku, termasuk saya,
"Buku apa yang sedang kau cari?"
 
Ia mengangkat bahu, "Entahlah. Bila ke sini aku tak pernah menentukan buku apa yang kucari. Aku hanya datang, dan berharap beruntung menemukan buku yang bagus." ~p.140
Herannya, tak satu kali pun saya menemukan nama kota dalam paragrafnya. Katanya ini kota hujan, letaknya di ujung pulau. Kota kecil yang sepi, nyaman dan sendu. Saya berusaha keras menebak-nebak kota mana yang di jadikan latar dalam [un]affair tapi tidak menemukan satu pun kecocokan karena mana ada sih kota kecil di pulau Jawa yang disebut kota hujan dan senyaman itu. Ternyata itu kota imajinatif yang dianggap kawasan ideal oleh penulis (sumber). 
Belakangan di akhir cerita, saya baru ngeh deh kenapa buku ini di beri judul [un]affair. Tapi nanti kalau saya ceritain malah spoiler, nggak usah aja ya.. haha. Oya, saya nemu satu typo nih, typo di bagian Katalog Dalam Terbitan kayaknya ada salah cetak ya, disitu tertulis terbit pertama kali tahun 2010. Saya sampai crosscheck dua kali ke Goodreads, hehe. Tapi selain itu kayaknya nggak ada typo sama sekali dalam naskah. Hebat!!
Oya, saya suka banget sama covernya!
Waktu pertama kali lihat di Gramedia langsung ambil buku ini sebelum baca judul maupun penulisnya. Haha. Sofa. Udah, itu ajah. Dengan berbagai permainan warna yang membuat cover ini terlihat retro tapi di satu sisi juga keliatan artistik. Untung ya yang di pilih cover Sofa soalnya nyaman aja lihatnya, ini masuk cover favorite banget deh. 
Buku ini buku romance. Namun, ide cerita buku ini nggak mainstream. Dengan tutur bahasa yang indah dan alur lambat [un]affair ini akan menenggelamkanmu dalam suasana Kota Sendu. Cocok banget kamu baca di saat hujan sambil minum cake dan teh *eaa*. Kadang jeda antar scene gitu saya berhenti dan lanjut baca di lain waktu dengan nyaman. Makanya saya lumayan lama bacanya, karena buku ini emang paling empuk dinikmati perlahan. Brava for your first romance book Mas Yudhi XD


PS: I was feeling blue from reading this book, thanks to Mas Yudhi ^^
 
 
http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2012/09/unaffair.html?spref=fb

Review [un}affair oleh Luckty Giyan Sukarno


Pertemuan itu sebenarnya mudah saja, kita yang membuatnya menjadi rumit. (70)

Kadang sesuatu yang ada di sekitar kita, akan kita bentuk seperti diri kita. (hlm. 144)

Cinta yang tak pernah dimiliki seutuhnya, bertahan lebih lama. (hlm. 148)

Adalah Bajja, bekerja di kantor Vanila Ice Design, di bagian divisi desain. Lelaki penyuka hujan, yang selalu akan membiarkan gerimis menjatuhi tubuhnya tanpa rasa enggan dan berlebih.

Hidup terkadang diikuti masa lalu, begitu pula dengan Bajja. Canta adalah masa lalunya.

Entah mengapa, hanya menatap dirinya saja, sanggup membuat jantungku lebih berdegup. (hlm. 48)

Itulah yang dialami Bajja, di saat perlahan-lahan melupakan masa lalunya, muncullah Arra sebagai persinggahan hatinya. Perempuan yang baru saja dikenalnya, namun langsung bisa membuka pintu rasa yang sudah dikuncinya rapat-rapat. Semesta berkonspirasi mempertemukan mereka. Arra, yang kali pertama Bajja lihat di stasiun kereta, ternyata menjadi klien di tempatnya bekerja. Arra ingin menerbitkan buku dengan bantuan desain dan cetak di kantor Bajja.

Aku selalu yakin bila orang yang kelak bersama kita sepanjang usia selalu berasal dari golongan yang sama seperti kita. Maka itu, aku yakin perempuan yang kau pilih..pastilah sebaik dirimu. (hlm. 154)

Engkau bagai angin yang selalu terbang entah ke mana. Aku tak bisa menebak kapan engkau datang… (hlm. 158)

Sofa yang ditampilkan mendominasi cover buku ini sangat merepresentasikan.kehidupan Bajja. Siapa saja bisa memasuki hatinya, seperti halnya sebuah sofa yang bisa dinikmati siapa saja yang ingin singgah, sekedar merebahkan badan untuk menghilangkan rasa lelah atau hanya sekedar untuk minum teh sambil menatap layar kaca.

Aku hanya seorang manusia di antara bentangan perasaan. Terlalu kecil. Terlalu lemah. Jadi bagaimana bisa aku memilih, bila hati yang kemudian memutuskan? (hlm. 64)

Buku yang saya baca di sela-sela #karantina ini memang ringan untuk dibaca. Beberapa teman #karantina juga tertarik membaca buku ini, bahkan ada yang mencatat kalimat dalam buku ini untuk dijadikan status :D

Bahasanya yang mengalir dan mengena. Meskipun dalam percakapan menggunakan tata bahasa yang baku, saya justru menikmatinya. Percakapan monolog dengan Bajja sebagai tokoh ‘aku’, merasuk ke pembaca. Seolah-olah kita merasakan apa yang dialami toko ‘aku’. Sudah lama tidak membaca buku berbentuk novel dengan tatanan bahasa yang baik seperti ini.

Ada kalanya sebuah film hanya sekadar bentuk pengulangan dari sebuah kejadian yang mungkin saja terlewati. (hlm. 82)

Kenapa sebuah lagu sendu mampu mempermainkan perasaan kita sebegitu rupa? (hlm. 107)

Bila bumi tak berotasi mengelilingi matahari, tentu sangat beruntung orang-orang yang ada dalam waktu sunset. Mereka akan terus mendapati sunset yang indah. (hlm. 125)

Sekilas saat membaca awalnya, menerka-nerka bahwa ini adalah cerita cinta antara tiga hati yang harus memilih dan dipilih. Endingnya bener-bener gak disangka. Ternyataaa… jreng-jreng…baca sendiriii.. (◕‿-)

Kita bagai kupu-kupu…
Aku kupu-kupu dengan sepasang sayap yang rapuh
Berharap engkau terus mengiringiku terbang
Menjaga sewaktu-waktu aku jatuh (hlm. 85)

Keterangan Buku:
Judul                : [un] affair
Penulis              : Yudhi Herwibowo
Editor               : Anton WP
Desain cover    : desaincoverok.com
Penerbit            : Katta
Tebal                : 172 hlm.
Terbit               : 2012
ISBN               : 978-979-1032-78-0


http://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-unaffair/10151014082782693

Kamis, 20 September 2012

[un]affair – Yudhi Herwibowo, review Bacaan B.zee

Judul buku : [un]affair
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Penerbit KATTA, 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : 172 halaman

“Kupikir senja menjadi indah bila kita memiliki jeda untuk tak melihatnya.” (p.125)

Jika kita punya waktu, sekedar untuk memandangi hujan atau menghitung langkah di sepanjang perjalanan. Seandainya kita tinggal di kota sendu, dimana mendung selalu menggelayut dan ketenangan begitu mudah didapatkan. Mungkin sebuah pertemuan singkat bisa menjadi kisah.

Bajja, tokoh utama dalam kisah ini, bisa dikatakan tipikal penghuni kota sendu. Setiap kejadian, sekecil apa pun, seolah menyimpankan rahasia untuknya. Siapa yang menyangka wanita yang diperhatikannya kala berpapasan di perlintasan kereta, tiba-tiba menjadi kliennya, kemudian menjadikan dirinya tempat pelarian.
Arra, wanita itu, akan datang kepada Bajja di saat dia sedang sedih. Tertidur di sofanya, kemudian menghilang di pagi hari. Setelah itu dia menghilang. Tepat di saat Bajja hendak melupakannya, wanita itu hadir lagi. Selalu seperti itu, meski keduanya tahu bahwa posisi mereka tak seharusnya memiliki hubungan yang spesial. Tanpa komitmen, namun selalu terhubung.
Saya tidak akan memberikan sinopsis terlalu panjang, karena bukan pada kisah dua insan itu pembaca dibuai. Saya melihat pergulatan batin seorang pecinta, yang percaya akan tanda-tanda di sekitarnya. Tanda-tanda yang terus berdatangan sehingga sukar untuk diabaikan, namun terlalu indah untuk dipercaya. Dalam kata demi kata yang dirangkainya, penulis seolah mengajak pembaca untuk mengerti apa yang sebenarnya dirasakan oleh tokoh itu, kemudian menilainya sendiri.

Saya sangat jarang membaca novel romansa, namun saya cukup menikmati [un]affair ini. Kata-katanya dirangkai dengan indah, tidak berlebihan, tetapi suasana yang ditimbulkan sangat cukup. Meski kadang menyelipkan bahasa-bahasa yang ‘kekinian’, saya salut akan konsistensinya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dalam dialognya sekalipun. Dan hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan kaku. Oleh karena saya memang ‘anti’ pada penggunaan bahasa gaul dalam karya sastra. Hanya saja ada satu kata yang sepertinya tidak disengaja terselip di situ, yaitu kata “kuteriakin” dalam narasi di halaman 56.
Secara keseluruhan, novel ini sangat berpotensi untuk dihabiskan dalam sekali-dua kali duduk. Selain karena bahasanya yang mengalir, saya pribadi merasakan keterikatan dengan tokoh-tokoh maupun kejadian-kejadiannya, yang bisa jadi dirasakan pula oleh semua orang.

Aku tahu, ada kalanya sebuah film hanya sekadar bentuk pengulangan dari sebuah kejadian yang mungkin saja terlewati. (p.82)
Musik mungkin universal, tapi kisah di balik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama. (p.107)

Seringkali saya merasakan pertanda yang sangat jelas tapi meragukan, seperti Bajja. Ada kalanya saya melarikan diri ke ‘sofa’ orang lain seperti Arra, sekedar singgah tanpa berharap, meski terancam kehilangan. Meski begitu, mungkin karena begitu ‘nyata’nya kisah ini, saya sama sekali tak tahu akhir seperti apa yang saya harapkan. Kemudian saat mencapai kalimat terakhir, ternyata saya cukup puas. 4/5 untuk sofa usang di kota sendu.


http://bacaanbzee.wordpress.com/2012/09/19/unaffair/